Sejuta Mimpi yang Sempurna

Tak pernah ku rasakan sabtu pagi yang begitu cerah seperti hari ini. Angin yang berhembus seperti mengantarkanku untuk pergi ke sekolah. Aku ingin tiba secepatnya di sana. Waktu sudah semakin siang, guratan sinar mentari kian lama kian terlihat dan semakin memancarkan pesonanya. Aku kemudian memanggil ibuku agar cepat-cepat berangkat.

Aku sudah tidak sabar. Sekolahku tak cukup mewah sampai-sampai aku sangat menginginkan tiba di sana secepatnya. Memang bukan hal itu yang membuatku bersemangat untuk berangkat sekolah, tetapi ini adalah hari spesial bagiku. Saat ini adalah “hari perpisahan”, begitulah aku dan orang-orang sekitar menyebutnya, yaitu hari dimana aku dan teman-teman kelas enam SD yang lainnya akan secara resmi dinyatakan lulus dari Sekolah SD 01 Parongpong ini.

Sebenarnya, dibalik keriangan itu, tersembunyi kegalauan. Aku bingung apa yang akan aku lakukan setelah lulus sekolah nanti. Banyak dari teman-temanku yang tidak perlu pusing-pusing memikirkan masa depan karena orangtua mereka telah membantu merencanakan masa depan mereka, yaitu pernikahan. Ya, itulah yang biasa dilakukan anak-anak yang baru lulus sekolah dasar di daerahku.
Aku tidak terkejut melihat mereka tidak melanjutkan sekolah dan malah menikah di usia semuda itu. Hal itu karena kebanyakan orang di daerah rumahku menganggap bahwa wanita itu sudah kodratnya berada di dapur, jadi untuk apa sekolah tinggi-tinggi. Tetapi lain denganku, aku bukanlah gadis yang sama seperti teman-temanku. Kondisi fisikku tidak memungkinkan ada lelaki yang menyukai atau bahkan ingin menikah denganku. Sebelah kakiku lebih kecil dari ukuran normalnya sehingga sejak kecil aku selalu memakai tongkat.

Baca entri selengkapnya »

Iklan