Berguru dari Pengamen

Jumat, 5 November 2010

 

Hikmah memang bisa didapat dari mana saja, kapan saja, dimana saja, dari siapa saja. Baik dapat kita duga—sesuai dugaan kita atau pun tidak—maupun tidak terduga sama sekali. Seperti yang saya alami hari ini. Pagi tadi, saya disadarkan kembali mengenai  hal sederhana yang terkadang luput dari pantauan dan alam sadar saya.

 

Pagi ini, saya pulang dari kosan ponakan saya. Ya, semalam saya menginap di sana. Di perjalanan pulang, saya naik angkot jurusan Kalapa-Ledeng yang menuju arah ledeng. Hanya ada tiga penumpang, salah satunya saya. Di perempatan jalan, seorang pengamen menghampiri angkot yang saya tumpangi. Jalan pikiran saya kemudian berubah ke mode ibu-ibu yang sedang memikirkan bagaimana mengatur uang belanja (hehe), saat itu saya berpikir untuk apa si pengamen mencoba peruntungan di angkot yang hanya berisi 3 penumpang, kemungkinan untuk dapat uang nya kan sangat kecil. Padahal ada angkot lain yang penumpangnya cukup penuh, dan jelas jelas lebih banyak. Bodoh, bagi saya pada saat itu.

 

Jreng.. Jreng..



 

Sang pengamen mengawali aksinya dengan menyampaikan salam pembuka. Cukup sopan, tidak berlebihan, dan  saya merasakan ketulusan sang pengamen dalam menyampaikan ucapan salamnya. Kemudian ia mulai membawakan sebuah lagu yang sudah tidak asing lagi, memang enak didengar, banyak disukai, dan membangkitkan semangat. Suaranya pun cukup nyaman didengar, meskipun tidak bias dibilang bagus. Yah setidaknya ia bias bernyanyi, menghibur, dan telinga saya selamat (ehehe ;p).

 

Lampu merah sepertinya sudah lelah, dan memberikan kesempatan pada lampu hijau untuk beraksi. Si pengamen pun sadar waktunya bernyanyi sudah habis, ia pun berhenti bernyanyi dan mulai mengais rezeki. Ketidakyakinan saya sebelumnya ternyata salah. Pengamen tersebut mendapat sejumlah uang yang jauh di atas perkiraan saya sebelumnya. Yah, mengingat hanya ada 3 orang penumpang, salah satunya saya, dan saya memang sudah berniat tidak akan memberi uang (huuuuu pelit ;p), jadi hanya 2 orang yang mungkin akan memberi uang. Jadi ya saya pikir si pengamen tidak akan mendapatkan uang, hehe, atau setidaknya hanya 500 rupiah lah. Wajar lah, wajar dong saya bisa berpikir begitu 😀 hehe. Tapi ternyata tidak tuh (hweee 😐 maluuuuu), ternyata penghasilan pengamen itu lumayan juga.

 

Hmmmm, saya jadi berpikir. Kita pasti punya tujuan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, baik tujuan utama maupun tujuan pendukung. Tentu saja kita akan berfokus pada tujuan-tujuan tersebut, dan menyusun urutan prioritas tertentu. Otak kita dipenuhi strategi, perasaan kita dipenuhi amunisi semangat. Kita pun melakukan hal-hal yang dirasa perlu untuk mencapai tujuan kita itu (dan juga hal-hal menarik lainnya buat hiburan, deuuuu ~_^). Mungkin bahkan terkadang kita berusaha untuk tidak melakukan atau menomorduakan hal-hal lainnya. Akibatnya, terkadang kita melewatkan bagian lain yang sebenarnya juga penting bagi kita, yang menjadikan hidup kita lebih indah, lebih bermakna, lebih bernyawa. Seperti yang sudah dilakukan sang pengamen (gak konsisten ah, jadi namanya si pengamen atau sang pengamen ini teh??? #mulaigakpenting), ia mungkin tahu bahwa kemungkinan untuk mendapatkan uang sangat kecil tetapi toh ia tetap berusaha—satu poin penting, dan tetap memperlakukan para pendengarnya dengan baik walaupun hanya 3 orang—poin kedua. Ia tulus memberikan sapaan dan bernyanyi (iya gituh?)—poin penting lainnya. Dan ia pun bahagia, ia menaruh kebahagiaan (perasaan positif) dalam menggeluti pekerjaannya—ini poin yang paling penting.

 

Saya jadi ingat pada diri saya sendiri dan semua orang yang mempunyai tujuan-tujuan di dalam hidupnya (atau bahkan target-target hidup, nikah juga termasuk looohh #deuuuu ;p). Baik saya (kan saya juga lagi punya tujuan, ngerjain skripsi biar cepet lulus, hehe #curhat), maupun anda, tentu saja bisa menerapkan poin-poin penting tersebut sebagai penunjang pencapaian tujuan hidup kita.

 

Akhir kata, saya jadi ingin bertanya. So, apa tujuan hidup anda saat ini? Apakah anda mengembangkan perasaan-perasaan positif dalam mencapai dan menjalaninya, atau malah sebaliknya? Hanya masing-masing diri anda yang tahu dan bisa menjawabnya… :))

 

Salam hangat dari saya… Selamat memberi makna dan nyawa pada hidup anda… ^^



Pengamen Cilik

Satu dua tiga… Mulai….

Bandung,, 19 Maret 2007

Saya bukan orang yang rutin menulis setiap hari. Saya punya ketertarikan tersendiri terhadap kegiatan ini, tetapi ketika ada ide berkelebat di pikiran saya, saya tidak langsung mencurahkan ide itu ke dalam tulisan. Alasannya cukup banyak. Males, banyak kerjaan, lupa, n seabreg alasan lainnya. Sebenarnya, ada satu alasan yang bener-bener benar (walah…). Maksudnya, ada alasan yang benar2 menggambarkan kenapa saya tidak mencurahkan ide2 saya ke dalam tulisan. Alasan itu adalah : sulitnya bagi saya untuk memulai. Yap,, MEMULAI.

Memulai adalah satu kata yang simpel, merupakan kata kerja, dan terdiri dari 7 huruf (alah..). Tapi di sisi lain, memulai adalah suatu proses awal, pembuka dari proses-proses lainnya dan merupakan titik penentu proses selanjutnya.

Keengganan saya untuk memulailah yang menyebabkan kreativitas saya terhambat. Yap,, ibaratnya kalo lagi ngantri, keinginan saya untuk mulai nulis ada di penghujung barisan, di ujuuuuung banget, deket kotak penyimpanan “hal2 yang ga jadi / gak sempet / gak bakalan diwujudkan”. Sedih memang, tapi itulah kenyataan pada waktu sebelum saya mulai nulis. Tapi sekarang, saya rasa, mulai menulis adalah hal yang positif. Asal apa yang saya tulis pun bermuatan positif. Meski gitu, sekarang pun masih susah aja buat nulis sepatah dua patah kata. Ditambah dengan gaya tulisan saya yang masih ga menentu, masih berubah-ubah sesuai mood saya. Kadang agak serius, kadang kata2nya agak baku, kadang kata2nya terlalu santai, berusaha ngocol, pokoknya saya amsih belum menemukan gaya bahasa yang sesuai. Makanya terkadang tulisan saya ga enak dibaca (maaf). Tapi itu hanya sebagian kecil usaha saya untuk memacu semangat saya. Baik untuk belajar, cari pengalaman, ataupun untuk sekedar mencurahkan isi hati saya.

So,, intinya, ga ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang positif. Meski kamu ngerasa udah terlambat banget untuk memulai sesuatu yang positif, tapi ga ada salahnya untuk mencoba….

Selamat memulai!!!

Dan berikan selamat pada diri anda yang sudah berusaha… 😀

_______________________

Ketika melihat file2 lama, dan melihat postingan-postingan lama saya, akhirnya saya menemukan tulisan ini, rasanya saya jadi ingat saat-saat saya sedang giat menulis… Jadi saya posting kembali di sini… Selamat menikmati…

Sejuta Mimpi yang Sempurna

Tak pernah ku rasakan sabtu pagi yang begitu cerah seperti hari ini. Angin yang berhembus seperti mengantarkanku untuk pergi ke sekolah. Aku ingin tiba secepatnya di sana. Waktu sudah semakin siang, guratan sinar mentari kian lama kian terlihat dan semakin memancarkan pesonanya. Aku kemudian memanggil ibuku agar cepat-cepat berangkat.

Aku sudah tidak sabar. Sekolahku tak cukup mewah sampai-sampai aku sangat menginginkan tiba di sana secepatnya. Memang bukan hal itu yang membuatku bersemangat untuk berangkat sekolah, tetapi ini adalah hari spesial bagiku. Saat ini adalah “hari perpisahan”, begitulah aku dan orang-orang sekitar menyebutnya, yaitu hari dimana aku dan teman-teman kelas enam SD yang lainnya akan secara resmi dinyatakan lulus dari Sekolah SD 01 Parongpong ini.

Sebenarnya, dibalik keriangan itu, tersembunyi kegalauan. Aku bingung apa yang akan aku lakukan setelah lulus sekolah nanti. Banyak dari teman-temanku yang tidak perlu pusing-pusing memikirkan masa depan karena orangtua mereka telah membantu merencanakan masa depan mereka, yaitu pernikahan. Ya, itulah yang biasa dilakukan anak-anak yang baru lulus sekolah dasar di daerahku.
Aku tidak terkejut melihat mereka tidak melanjutkan sekolah dan malah menikah di usia semuda itu. Hal itu karena kebanyakan orang di daerah rumahku menganggap bahwa wanita itu sudah kodratnya berada di dapur, jadi untuk apa sekolah tinggi-tinggi. Tetapi lain denganku, aku bukanlah gadis yang sama seperti teman-temanku. Kondisi fisikku tidak memungkinkan ada lelaki yang menyukai atau bahkan ingin menikah denganku. Sebelah kakiku lebih kecil dari ukuran normalnya sehingga sejak kecil aku selalu memakai tongkat.

Baca entri selengkapnya »